Selamat Datang di Blog Saya, Semoga Bermanfaat. TUHAN YESUS MEMBERKATI Soa Bangkit

Kamis, 07 Februari 2013

TUGAS GEREJA


A.    Hakikat Tugas Perutusan GerejaHakikat tugas perutusan Gereja adalah melanjutkan dan mengambil bagian dalam Kristus sebagai imam, nabi, dan raja. Tugas imami adalah tugas pengudusan, tugas kenabian adalah tugas pewartaan, dan tugas rajawi adalah tugas melayani.
 B.     Tugas Mewartakan
1.      Bentuk-bentuk Sabda Allah dalam Gereja
Sabda Allah tampak secara konkret dalam pribadi dan karya Yesus Kristus. Oleh karena Sabda itu sudah menjelma dalam sejarah dan tidak bisa tinggal dalam sejarah untuk selamanya, maka untuk mem pertahankan hasilnya bagi semua, Sabda itu harus menciptakan bentuk-bentuk lain, yang di dalamnya Ia bisa hadir dan berbicara. Sabda bentuk lain ini merupakan gema Sabda Yesus Kristus. Sebelum Kristus, Sabda Allah itu diwarnai oleh janji, sedangkan sesudah penjelmaan ada juga sifat janji namun yang lebih menonjol ialah kesaksian.
Bentuk baru Sabda itu ialah Gereja. Kristus, Sabda Allah, menciptakan Gereja. Lewat Gereja Ia bisa hadir dan berbicara dalam sejarah manusia. Di pihak lain, Gereja pada hakikatnya adalah jawaban atas panggilan Yesus Kristus. Maka Gerjea seluruhnya adalah Sabda sebab di dalam Gereja Sabda Allah yang abadi bergema.
2.      Kuasa Magisterium Gereja atau wewenang mengajar
a.       Makna wewenang mengara hirarki
b.      Di satu pihak Konsili vatikan II mengatakan, bahwa Kristus, Nabi agung, menunaikan tugas kenabianNya bukan sja melalui hirerarki yang mengajar atas nama dan dengan kewibawaanNya, melainkan juga melalui para awam”. Di lain pihak dikatakan, bahwa “di bawah bimbingan wewenang mengajar, yang dipatuhi dengan setia, umat Allah berpegang teguh kepada iman”. Umat Allah hanya dapat menjalankan tugas kenabiannya hanya dalam kepatuhaan kepada pimpinan Gereja. Ini tidak berarti bahwa dalam pewartaan hanya hirarkilah yang aktif, sedangkan awam tinggal menerima dengan pasif saja. Wewenang mengajar hirarki adalah wewenang untuk menjaga kesatuan iman dan ajaran. Ini tidak berarti mengindoktrinasi.
c.       Hirarki sebagai pengajar otentik
Sebagai Dewan dalam Gereja, hirarki memiliki sifat tidak dapat sesat dalam ajaran. Ciri tidak dapat sesat ini ialah:1)      Ajaran itu harus menyangkut iman dan kesusilaan
2)      Harus bersifat ajaran otentik (jelas dikemukakan dengan kewibawaan Kristus).
3)      Dinyatakan dengan tegas atau definitive
4)      Disepakati bersama.
3.      Pola-pola Pewartaan dalam Gereja
a.       Teologi
Secara khusus dan ilmiah, teologi menyelidiki dalam terang iman segala kebenaran yang tersimpan dalam rahasia Kristus. Tugas wewenang mengajar Gereja ialah menafsirkan secara otentik sabda Allah dalam Kitab Suci dan Tradisi. Dalam hal ini, hirarki menjalankan tugas teologi. Akan tetapi antara tugas hirarki dengan dengan tugas teologi berbeda. Hirarki mempunyai tugas structural dalam Gereja, yang pokoknya tugas kepemimpinan demi kesatuan Gereja. Yang pokok adalah tugas pemersatu. Sedangkan tugas perumusan iman (teologinya) adalah sarana saja. b.      Pelajaran agama, katekese umat, homili.
c.       Kesaksian iman kristiani dalam kehidupan konkret
 C.    Tugas Pengudusan dalam Perayaan
Roh Kuduslah yang menciptakan persekutuan umat beriman dalam iman, harapan, dan cintakasih. Gereja dibentuk karena perpaduan unsure manusiawi dan ilahi. Kesatuan Gereja bukan hanya karena karya Roh kudus, tetapi juga hasil komunikasi antarmanusia, khususnya perwujudan komunikasi iman di antara para anggota Gereja. komunikiasi ini terjadi terutama dalam perayaan iman. Maka dikatakan bahwa penampilan Gereja yang istimewa terdapat dalam keikutsertaan penuh dan aktif seluruh umat kudus Allah dalam perayaan liturgi. Liturgi merupakan pengungkapan iman. Pengungkapan iman terdiri dari dan bidang perayaan. Bidang perayaan adalah bidang doa dan kebaktian.
1.      Ulah Kesalehan (Doa di dalam Gereja)
Doa di dalam Gereja artinya doa pribadi, yaitu pengarahan hati kepada Tuhan.
 2.      Liturgi (Doa Gereja)
Liturgi adalah doa resmi Gereja atau disebut kebaktian. Liturgi menjadi kesempatan orang berkomunikasi dengan Bapa, Putra dan Roh Kudus. Gerak-gerik, bahasan, music, membuat liturgy menjadi layak, indah, dan permai, sehingga dapat menjadi tanda dan lambing kenyataan surgawi.
 D.    Tugas Melayani
1.      Sikap dasar Melayani dan bukan dilayani
Yesus tak pernah menganggap orang lain lebih rendah dari diriNya. Sikap melayani berangkat dari cara pandang. Cara pandang yang membedakan suku, ras, golongan, status social, pria dan wanita merupakan cara pandang yang menghambat pertumbuhan sikap melayani. Cara pandang seperti itu tidak cocok dengan semangat Yesus Kristus. Dalam pandangan Kristen, sikap melayani tidak merendahkan, tidak membedakan, melainkan mengedepankan kesamaan, persaudaraan semua orang, sebab di hadapan Tuhan semua orang sederajat.
 2.      Tanggung jawab Gereja
Sikap tanggung jawab adalah pengabdian iman akan Kristus. Dasar pengabdian Gereja adalah imannya akan Kristus. Akan tetapi iman itu mati bila tidak ada perwujudannya. Pengungkapan iman harus seimbang dengan perwujudan iman dalam kehidupan konkret.
Tanggung jawab Gereja adalah tanggung jawab Umat Allah, yaitu tanggung jawab pribadi-pribadi yang sama-sama mengimani, berharap, dan mencintai Kristus. Sikap tanggung jawab Gereja adalah sikap pelayanan setiap anggotanya untuk mengangkat harkat, martabat, dan harga diri manusia. Pengungkapan iman dalam liturgy harus diwujudkan dalam sikap tanggung jawab dalam kehidupan konkret di masyarakat, yaitu melaksanakan tugas sesuai dengan situasi, kondisi, bakat, profesi masing-masing dengan baik dan bertujuan membangun kesejahteraan bersama.
 3.      Ciri-ciri Pelayanan Gereja (Hormat dan taat pada Allah Bapa, Kesetiaan kepada Yesus Kristus, dan kerendahan Hati)
 a.       Taat pada Bapa.
Gereja adalah Umat Allah yang mengikuti dan berpartisipasi dalam Kristus. Seluruh peristiwa Yesus Kristus mengungkapkan ketaatanNya kepada kehendak Bapa. Maka Gereja yang berpartisipasi dalam Kristus berarti berpartisipasi dalam ketaatan Kristus kepada Bapa. Maka segala bentuk pelayanan Gereja adalah suatu ungkapan ketaatan kepada Bapa. Pelayanan sebagai ungkapan ketaatan kepada Bapa di sini adalah pelayanan kepada sesama. Oleh karena itu, pelayanan Kristisni tidak berdasarkan belaskasihan atau ketaatan kepada pemerintah, melainkan berdasarkan hormat terhadap Allah Sang Pencipta, yang membuat manusia sesuai dengan citraNya sendiri.
b.      Kesetiaan kepada Kristus sebagai Tuhan dan Guru
Beriman kepada Kristus mengandung arti setia kepada Kristus sebagai muridNya. Sikap setia kepada Kristus dalam berbagai ungkapan dan perwujudan iman turut memuliakan Allah, sebab kesetiaan kristus berarti berpartisipasi dalam seluruh hidup Kristus yang senantiasa memuliakan Bapa.
c.       Mengambil bagian dalam kesengsaraan dan penderitaan Kristus.
Pelayanan di sini adalah empati sekaligus partisipasi dalam segala usaha untuk membebaskan manusia dari kemiskinan dan penderitaan (kemiskinan jasmani, psikis, dan rohani).
d.      Kerendahan hati
Kerendahan hati Gereja terletak dalam sikap dan kecenderungan batin anggota-anggotanya yang tidak membanggakan pelayanannya. Sikap rendah hati bukan suatu yang amat istimewa atau tanda kesucian, melainkan sikap realistis yang mengakui keterbatasan segala usaha manusia, termasuk pelayanan Gereja. Pelayanan Gereja adalah menerima dunia dan manusia seadanya, dan berusaha menghayati sikap Kristus di hadapan sesame.
 4.      Kegiatan social Gereja, dalam Masyarakat, dan terhadap Kaum miskin.
Kegiatan social Gereja merupakan bentuk perwujudan iman Gereja. Ajaran social Gereja bukanlah prinsip-prinsip kehidupan bersama di dalam Gereja saja, melainkan di dalam masyarakat. Maka cirri utama kegiatan social Gereja adalah perwujudan iman kristiani dalam hidup social yang konkret di masyarakat. Tugas pelayanan dilaksanakan dalam bentuk partisipasi dalam tukar pikiran di masyarakat yang menyangkut prinsip-prinsip etis dan politik serta kemasyarakat. Tidak hanya itu, tetapi juga terlibat secara nyata dalam berbagai kegiatan hidup bermasyarakat yang membangun masyarakat itu.
  
TUHAN YESUS MEMBERKATI. Adi@Tri Wahid
NO LOVE IS MORE BEAUTIFUL THEN THE LOVE OF GOD (Adi@Putra Bajawa)